Workshop ini mengundang dua kelompok dari Yogyakarta, yang dalam beberapa waktu terakhir bekerja di public space. Mereka adalah Lembaga Budaya Kerakyatan (LBK) Taring Padi dan Apotik Komik yang oleh media massa dianggap berbeda dalam cara pandang melihat ‘public art’. Pelaksanaan workshop ‘public art’ di Studio Hanafi (seorang pelukis dari Jakarta) dan kedua kelompok tinggal di tempat ini selama dua minggu.
Selama workshop ini berlangsung ruangrupa mengadakan debat bersama kedua kelompok ini dan mengundang dua orang pembicara dengan perspektif yang berbeda yaitu: Marco Kusumawijaya (Ketua Masyarakat Lingkungan Binaan, arsitek, pengamat pengamat kota, bekerja di Bristish Council), dan F.X. Harsono (seniman, penulis kritik seni, salah seorang seniman pada Gerakan Senirupa Baru pada akhir 70-an sampai awal 80-an). Pada akhir workshop kedua kelompok mempresetasikan karyanya dan melakukan debat terbuka di Hall Japan Foundation. Selama workshop berlangsung Kelompok Taring Padi lebih banyak bekerja di public space secara lansung yaitu melibatkan masyarakat di sekitar Kali Ciliwung Jakarta Selatan.
Di lokasi tersebut Taring Padi membuat sebuah Baliho raksasa dengan gambar masyarakat di sekitarnya dan menempelkan poster-poster tentang kritik sosial. Dalam hal ini Ruangrupa banyak dibantu oleh Komunitas Sanggar Ciliwung pimpinan Romo Sandyawan yang membina masyarakat miskin dan kaum urban di lokasi tersebut. Kelompok Apotik Komik lebih banyak bekerja di studio dan melakukan pengamatan terhadap pada mass trafic transport di Jakarta. Karena Apotik Komik mengajukan sebuah konsep tentang perlakuan berbeda terhadap bis kota di Jakarta dengan membuat maket. Dalam hal ini Apotik Komik berencana membungkus bis di Jakarta pada pembungkus tersebut adalah semacam parodi dan satir pada pengguna bis kota di Jakarta.