DEER ANDRY

ruangrupa & s.14 & RURU Gallery mempersembahkan
Pameran tunggal drawing, painting, ceramic, photography, graphic, installation
Andry Mochammad
..yang direalisasikan oleh Teman-teman dan Keluarga

“DEER ANDRY”
{gallery}2009/deer_andry{/gallery}
Pembukaan pameran:
Jumat, 22 Mei 2009 (jam 19.00 s/d selesai)
Dimeriahkan oleh: A Stone A, serta kolaborasi teman-teman yang berbahagia..

di
ruru_gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya, No. 6
Tebet
Jakarta Selatan
12820
p/f: +62-(0)21-830.4220
e: info@ruangrupa.org

Pameran berlangsung tanggal 2306 Mei 2009
RURU Gallery buka setiap hari Senin sampai Sabtu, jam 11.00 – 21.00
(RURU Gallery tutup dan tidak beroperasi pada hari Minggu, serta hari libur nasional)
{gallery}2009/deer_andry/foto1{/gallery}

“DEER ANDRY” adalah solo exhibition project Andry Mochammad yang belum sempat terlaksana di saat ia masih hadir secara fisik bersama kita semua. Berawal dari obrolan santai tentang rencana ke depan antara Andry Mochammad dan Herra Pahlasari – soal kekaryaan maupun kegiatan, juga tentang rencana pembangunan sebuah ruang pamer di rumah.

Perihal kapan pameran tunggal itu akan dilaksanakan, Andrymoch berpesan: “Kalau bisa jangan lama-lama, setelah screening dan diskusi videolab di Semarang”, itu berarti setelah Maret 2008. Tetapi kemudian siapa yang mengetahui panjang dan pendeknya umur seseorang – termasuk Andry Mochammad, sahabat kita yang dipanggil begitu cepat disaat banyak ide-ide dan kegiatan yang ingin ia realisasikan.

Oleh karenanya -kami, kita, para sahabat dan teman-teman di sekeliling Andry Mochammad ingin segera merealisasikan apa yang menjadi keinginan Andry Mochammad sebelum ia meninggalkan kita semua, tanggal 1 Mei 2008 lalu. Pameran tunggal Andry Mochammad ini diselenggarakan di 3 kota yaitu; Bandung, Jakarta dan Jogjakarta. Melibatkan teman-teman Andry yang tersebar di 3 kota tersebut.

Pameran yang pertama di Bandung bertempat di Galeri s.14 sudah diselenggarakan pada tanggal 28 Desember s/d 25 Januari 2009. Pada pameran yang pertama di s. 14, Bandung, menampilkan 164 karya dari 164 partisipan. Semua karya yang ditampilkan di Bandung ini dibawa juga untuk ditampilkan di 2 kota berikutnya, sehingga jumlah karya di setiap kota akan bertambah. Untuk di Jakarta nanti, ruangrupa sebagai penyelengara pameran di Jakarta, akan mengundang 34 orang partisipan, yang semuanya adalah teman-teman Andry Moch yang tinggal di Jakarta.
{gallery}2009/deer_andry/foto2{/gallery}
PARTISIPAN DEER ANDRY
RURU Gallery – ruangrupa, Jakarta:

  • Ade Darmawan
  • Andang Kelana
  • Andike Widyaningrum
  • Andy Tidjels
  • Anggun Priambodo
  • Aprilia Apsari
  • Ardi Yunanto
  • Ari Buy Shandra
  • Arief Rachman
  • Ary Sendy
  • David Syubidupapap
  • David Tarigan
  • Gembi Boy
  • Hafiz
  • Henry Foundation
  • Indra Ameng
  • Irwan Ahmett
  • J.J. Adibrata
  • Julia Sarisetiati
  • Keke Tumbuan
  • Mateus Bondan
  • Maulana Adel Pasha
  • M.G. Pringgotono
  • Mushowir Bing
  • Nasta Sutardjo
  • oomleo
  • Oscart De Kemano
  • R.M. Herwibowo
  • Restu Ratnaningtyas
  • Reza Afisina
  • Saleh Husein
  • Samuel Bagas
  • Sir Dandy
  • Yusmario Farabi

PARTISIPAN DEER ANDRY
Galeri S.14, Bandung:

  • Achmad Krisgatha
  • Ackay Deni
  • Ade Darmawan
  • Adi Wiguna
  • Adinda Natasha Oxcerila Paryana
  • Ageng Purnagalih
  • Agung Julianto
  • Aji A. Sumardhani
  • Alfiah Rahdini
  • Alvin Ekajaya P.
  • Amira Rahmitya M.
  • Andi Yudha Asfandiyar
  • Anindi Maulidya Fatima
  • Angga Wedhaswara
  • Annisa Utami
  • Amelia Lestari
  • Amira Rahmitya M.
  • Aming D. Rahman
  • Aminudin T.H. Siregar
  • Angga Wedhaswara
  • Arian Arifin Wardiman (Arian13)
  • Arienska Aliani
  • Arief Tousiga
  • Arum Sekar Prameshwari
  • Asep Wahyu
  • Asmudjo Jono Irianto
  • Asri W. Sakti
  • Attina
  • Azalea Fisitania
  • Banung Grahita
  • Beni Sasmito
  • Benny Muhdaliha
  • Budi Adi Nugroho
  • Chandra Tresnadi
  • Denden Firman Arief
  • Denny Wahyu Triawan
  • Detzi Patricia Jovanka
  • Dewi Aditya
  • Desziana
  • Dianti Dwi Anugerah
  • Dicky Aulidzar (Semarang)
  • Dikdik Sayahdikumullah
  • Dila Martina Ayu
  • Dimas Ayu Lestari
  • Djarot Pambengkas H.
  • Dodi Hilman (Odoy)
  • Dodi Mustofa
  • Endira F.J.
  • Endy S.
  • Eria Chita Bestari
  • Erick Pauhrizi
  • Erik Wiryanata
  • Etza
  • Evan Driyananda
  • Eria Chita
  • Erwin Windu Pranata (Ewing)
  • Faisal Reza
  • Fajar Sidik P
  • Fauzy Kamal
  • Fauzy Prasetya
  • Fida Rufaidah
  • Franz A. Prasetyo
  • Hadi Hapran Permana
  • Handy Hermansyah
  • Herra Pahlasari
  • Herry ‘Ucok’ Sutresna
  • Indrani Ashe
  • Irine Stephanie
  • Irfan Amalee
  • Irfan Fatchu Rahman (Semarang)
  • Itsnataini Rahmadillah
  • Iwa Indrawa
  • Ibey
  • Iwan Ismael
  • Indra Morgan
  • JA Pramuhendra
  • Jodi Setiawan
  • Jodie P. Panudju
  • Joko Avianto
  • Jordan Raspatie
  • Julissa Pertiwi Gosali
  • Joni E. Daulay
  • Kiki
  • Kinar
  • Krisnamurti (Niskhra)
  • Kupi Arif
  • Leonardiansyah Allenda
  • Maya Purnama Sari
  • Meizal Rossi
  • Mia Meilia
  • Mohammad Brendan Satria A.
  • M. Darmawan Natsir
  • Manuel Heischel
  • Mufti Priyanka (Amenk)
  • Muhammad Akbar
  • Muhammad Surya Gumilang
  • Mujahidin
  • M. Sigit Budi S.
  • Nenden Vinna Mutiara Ulfa
  • Nina Maftukha
  • Nuri Fatima
  • Oxcel
  • Paramita Manggiasih Chalid
  • Pritha Fitria Natasha Bekti
  • Prilla Tania
  • Putriani Mulyadi
  • Rabianna Laykanissa Siregar
  • Radi Arwinda
  • Ramdhan Darmawan
  • Rangga Aditya B.
  • Rangga Dimitri
  • Ranti Pujiagusti
  • Ratna Muliasari Dinangrit
  • Ratna Djuwita
  • Rennie ‘Emonk’ Agustine F.
  • Roni Brons
  • Rudi S.T. Darma
  • Rudayat
  • Rusa Risa
  • Rufaidah
  • R. Yuki Agriardi (Ewo)
  • Sally Texania
  • Sindi Ibnusina
  • Singgih A.P. (Semarang)
  • Siti Irma Rahmawati
  • Sir Dandy
  • SR Maya Kartika a.k.a AllezNina
  • Sri Ratna Ovianita
  • Taufik S. (Opik)
  • Tarlen Handayani
  • Tina ‘Beni’ Nuraziza
  • Tisa Granicia
  • Tommy Aditama Putra
  • Vidya Sukma
  • Widya Annisa
  • Wisesha Wening Galih
  • Yanti Hanafiah
  • Yasmina Yustiviani
  • Yori Frisa Papilaya
  • Ykha Amelz
  • Yudi Triadi
  • Yusuf Ismail
  • Zaenal Abidin
  • ..and some Anonymous Friends..

{gallery}2009/deer_andry/foto3{/gallery}

..in memoriam
Andry Mochammad (1977-2008)
andry_moch_1977_2008_local_freak
“Local Freak” – Andry Moch

Mengenang Andry Moch: Seniman Eksperimental yang Santun dan Rendah Hati
oleh: Indra Ameng

Jakarta-
Pertama kali saya mengetahui sosok Andry Mochammad adalah ketika saya membaca artikel  profil dirinya sebagai seniman yang ditulis oleh Gustaff Hariman di majalah Trolley no.9 edisi Januari 2002. Tulisan itu memuat wawancara antara Gustaff dengan Andry. Artikel itu memajang karya Andry bergambar seri Chairil Anwar -icon pop lokal dari dunia sastra. Karya ini menjadi karya pertama Andry yang saya lihat dan selalu saya ingat sampai sekarang. Apalagi dalam petikan wawancara tersebut, Andry menceritakan kejadian lucu mengenai karya Chairil Anwar itu:

..karya yang ada Chairil Anwar-nya..waktu itu kan belom jadi..terus ada kolektor yang datang ke pameran GSPI (dimana Andry ikut berpameran – pen)..dia liat foto karya yang itu..tiba-tiba dia nanya harga lukisan yang itu..terus saya dipanggil..disangkain sih mau ada yang ngajak diskusi atau apa..sangkain Taufik Razen..saya langsung baca-baca berapa tulisan bentar..pas datang malah ditanya harga lukisan..anjir..pas dikasih malah disebut kemurahan..akhirnya dikasih harga 9 juta. Terus sama kolektornya ditawar jadi 7 juta..sambil disuruh ngeberesin lukisannya. Nah, ternyata kolektornya punya trauma sama warna pink. Terus karena waktu selesai karyanya dikasih warna pink..akhirnya karya nggak jadi dibeli..padahal udah ngasih dp 2 juta..sebetulnya waktu itu saya diminta untuk ngeganti warna pink-nya, tapi kan males..ha..ha..ha..udah aja akhinya abis dari situ saya bikin karya-karya yang pake warna pink yang banyak sekalian..ha..ha..ha..gara-gara warna pink lukisan nggak jadi dibeli..

Enam tahun kemudian, saya melihat langsung karya Andry yang bergambar Chairil Anwar itu dipamerkan di Galeri Nasional dalam perhelatan pameran seni rupa MANIFESTO. Akhirnya saya lihat juga karya aslinya. Dan terus terang saya terharu pas melihat langsung karya itu, karena saat karya bergambar Chairil Anwar ini dipamerkan di Galeri Nasional, saat itu Andry sudah tiada.

Saya sendiri baru mengenal Andry secara langsung pada 2003. Waktu itu, Andry bersama beberapa temannya datang ke ruangrupa membawa karyanya “Bibliography Project”. Sesudah itu, sejak saya juga semakin intens bekerja di ruangrupa dan “hidup” di dunia seni rupa, semakin sering saya bertemu dengan Andry. Dalam hubungannya dengan ruangrupa, Andry juga salah satu seniman yang selalu ikutan dalam tiga kali penyelenggaraan OK. Video Festival dari 2003 hingga 2007.

Andry, adalah salah satu seniman paling produktif yang saya kenal. Karyanya banyak banget dan selalu berbeda-beda mediumnya. Pada 2004, ruangrupa mengundang Andry untuk mengikuti program residensi seniman di ruangrupa selama 1 bulan. Dalam program residensi seniman itu dia ‘ditandemkan’ dengan seniman muda asal Jakarta, MG Pringgotono (selain perupa, sekarang aktif mengelola ruang seni Serrum di Jakarta). Waktu itu Andry membawa banyak data karyanya dan memperlihatkan apa saja yang sudah dia buat selama ini. Dia membuat folder sendiri di komputer kantor ruangrupa untuk menyimpan data karya-karyanya. Folder ini masih tersimpan di komputer kantor ruangrupa sampai sekarang. Dalam masa residensi di ruangrupa itu, Andry bercerita banyak tentang karya-karyanya dan tentu juga tentang apa-apa yang disukainya.

Saat residensi di ruangrupa, dia membawa banyak found object yang dia temukan di pasar untuk ‘digarap’ menjadi karya seni. Hasil residensi ini menjadi sebuah pameran bertajuk “Zero Eyelution”. Sebuah pameran interaktif dengan karya-karya yang berhubungan dengan ilusi penglihatan. Semuanya dibuat dengan menggunakan benda-benda sehari-hari, ternasuk barang-barang rumah tangga yang bisa dibeli di pasar.

Apa yang saya suka dari karya-karya Andry adalah bagaimana Andry mengangkat hal-hal keseharian yang remeh-temeh, yang ‘lokal’ banget dan populer ke dalam karyanya. Seperti dalam karyanya “Local Freak” yang mampu memotret ‘urbanisasi’ dengan cara yang sederhana, membicarakan lingkungan hidup dalam karya “Green Enjoy” dengan photo dirinya sedang memetik buah mangga, atau membicarakan kultur “machoism” dengan berpose di depan kios penjual obat kuat laki-laki yang tersebar dimana-mana. Yang saya ingat, dia suka menyebut istilah, “Wah, ini ‘kampring’ nich, keren!”. Andry mengubah sesuatu yang ‘kampring’ menjadi keren.

Selain itu kekuatan karyanya adalah keusilannya, dan kejahilannya untuk bereksperimen. Dia tidak pernah stagnan dalam berkarya. Selalu bereksperimen menggunakan berbagai macam medium dan bermacam pendekatan. Dari mulai karya grafis, instalasi, video sampai performance art. Semuanya sepertinya pernah dia buat. Bahkan Andry juga membentuk sebuah band eksperimental bersama teman-temannya beraliran noise rock bernama: A Stone A. Salah satu nama band Indonesia paling keren buat saya.

Di November 2007, saya sempat berpameran bersama Andry di Festival Tanda Kota bertempat di Galeri Cipta (Taman Ismail Marzuki), pameran ini adalah salah satu program Dewan Kesenian Jakarta dengan Reza “Asung” Afisina sebagai kurator pameran. Saya suka sekali dengan karya Andry yang dipamerkan disini dan sangat terkesan sampai sekarang karena karya ini sangat lokal dan kontekstual sampai saat ini buat saya. Karya ini adalah karya terakhir Andry yang saya lihat, berjudul “Great Hit’s Flowers”. Di dalam ruang pamer, Andry menampilkan sebuah karya dokumentasi video dan sebuah karangan bunga bertuliskan “Congratulation Indonesia, TAUBAT!! Go(o)d Bless You”. Sebuah karya satir dalam menanggapi banyaknya spanduk pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang memenuhi seluruh kota Bandung dengan slogan-slogan yang membuai. Karya ini merupakan sebuah kritik terhadap para calon pemimpin. Direkam dengan kamera video, Andry membawa karangan bunga ini berkeliling kota Bandung, ke kantor pemda, factory outlet, keramaian kota dan kembali ke kantor pemda. Sebagai penutup dari ‘duka cita’nya, di akhir video ia menampilkan foto-foto dari calon kepala daerah. Dengan cara yang sederhana, dan dengan menggunakan medium keseharian yaitu sebuah karangan bunga, Andry menyampaikan sebuah kritik kepada para calon pemimpin dan pemimpin Indonesia masa sekarang. Sebuah pesan yang sangat keras dan lantang sebetulnya, “TAUBAT!!”. Sangat konstektual. Apalagi menengok bagaimana kampanye Pemilu yang baru saja lewat di hadapan kita semua. Mungkin ini juga menjadi salah satu pesan terakhir yang disampaikan oleh Andry lewat karyanya.

Pada bulan Desember 2007 saya bertemu lagi dengan Andry di sebuah konser musik di gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Bandung. Waktu itu saya mengadakan konser peluncuran mini album White Shoes & The Couples Company dibantu oleh Helvi Sjariffudin dan Achmad Marin dari Fast Forward Records. Andry datang bersama kakaknya, Odoy. Untuk pertama kalinya saya dikenalkan oleh Andry kepada kakaknya. “Meng, kenalin ini kakak gue, Odoy”, kata Andry dalam obrolan singkat sebelum konser dimulai. Setelah konser selesai kami bertemu kembali di beranda gedung RRI. Ngobrol-ngobrol lagi. “Meng, ini ada sesuatu buat Ale (gitaris White Shoes) dan Sari (vokalis White Shoes) dari gue”, kata Andry sebelum pamit pulang. Kemudian saya cari Sari dan Ale untuk bertemu dengan Andry. Andry memberikan jaket jeans untuk Ale dan buku untuk Sari. Setelah itu dia langsung pamit pulang naik motor bersama kakaknya. Masih saya ingat dengan baik kejadian ini, dan ternyata ini menjadi pertemuan terakhir saya dengan Andry Mochammad.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan saya tentang Andry Mochammad, salah satu seniman lokal favorit saya, seorang kawan baik,dan seorang seniman eksperimental yang santun dan rendah hati.

Good Bless You, Andry!