Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::start_lvl(&$output, $depth, $args) should be compatible with Walker::start_lvl(&$output, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::end_lvl(&$output, $depth, $args) should be compatible with Walker::end_lvl(&$output, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::start_el(&$output, $category, $depth, $args) should be compatible with Walker::start_el(&$output, $object, $depth = 0, $args = Array, $current_object_id = 0) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::end_el(&$output, $category, $depth, $args) should be compatible with Walker::end_el(&$output, $object, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php:339) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-phase2.php on line 62
15 years ruangrupa! – JIMI! JIMI! JIMI!

JIMI! JIMI! JIMI!

RURU Gallery mempersembahkan
Pameran tunggal drawing, painting, mural, graphic
Jimi Multhazam

JIMI! JIMI! JIMI!
(kurator: Ade Darmawan)
{gallery}2009/jimi_jimi_jimi{/gallery}
Pembukaan pameran:
Jumat, 01 Mei 2009 (jam 19.00 s/d selesai)
Dimeriahkan oleh: Morfem, The Trees and The Wild, serta penampilan spesial oleh The Upstairs

di
ruru_gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya, No. 6
Tebet
Jakarta Selatan
12820
p/f: +62-(0)21-830.4220
e: info@ruangrupa.org

Pameran berlangsung tanggal 0216 Mei 2009
RURU Gallery buka setiap hari Senin sampai Sabtu, jam 11.00 – 21.00
(RURU Gallery tutup dan tidak beroperasi pada hari Minggu, serta hari libur nasional)
{gallery}2009/jimi_jimi_jimi/foto1{/gallery}
Saya berada di depan kanvas. Pada sebuah sekolah kesenian di Jakarta. Beberapa tahun yang silam. Sudah hampir dua jam di depannya. Belum satupun garis yang saya torehkan di sana. Semua yang diserap oleh panca indera dari interaksi dengan penduduk bumi. Semua yang di serap dari televisi. Dari benda-benda yang di jajakan dalam toko serba ada. Jalanan. Trotoar yang sudah menjadi rumah makan darurat. Penilaian orang-orang dan lainnya. Dan lainnya lagi. Banyak lagi. Dan semakin banyak lagi. Telah memenuhi otak saya dan minta di muntahkan. Paksa. Kudu di paksa. Ah tidak bisa.

Akhirnya saya putar musik pada tape compo. Buat sekedar Soundtrack berkarya. Ajaib, seluruh soundtrack yang di putar berhasil menggerakkan tangan saya. Kaki. Hingga sekujur tubuh pun menari. Lentur. Lalu tergerak memuat sesuatu. Bukan pada kanvas tapi justru pada gitar butut di sudut ruangan. Terciptaah nada-nada yang sederhana. Tanpa ada beban. Liar seakan melukis pada dawai-dawai yang sumbang. Lalu terulislah bait demi bait lirik tumpahan dari segala yang menyerap di panca indera. Naik pentas lah bersama kawan-kawan pilihan. Berteriak lantang memanggil mereka yang tumpah pada rutinnya zaman.

Ternyata suara saya belum cukup lantang. Dikemaslah lagu yang telanjang dengan citra demi citra. Gambar demi gambar. Lukisan demi lukisan. Hingga setiap orang pun berduyun-duyun datang. Tanpa disadari saya telah melakukan apa yang ingin saya lakukan beberapa tahun silam. Ringan. Tanpa beban. Kanvas sudah terisi hinga berlembar-lembar kertas telah dipenuhi. Dan inilah yang saya lakukan beberapa tahun belakangan.
Jimi Multhazam, 2009


{gallery}2009/jimi_jimi_jimi/foto2{/gallery}
Jimi Multhazam lahir di Jakarta ketika chart musik lokal sedang didominasi oleh “The Osmond Brothers”. Nama ‘Jimi’ pun dicomot dari salah satu personel “The Osmonds” oleh kakak perempuan tertuanya. Ketika balita menderita step dan akhirnya lebih dulu mahir menggambar sebelum lancar membaca.

Jimi Multhazam -yang kini lebih dikenal sebagai “Jimi Danger”– adalah vokalis band new wave asal Jakarta: “The Upstairs” yang pada tahun 1995 memutuskan kuliah di IKJ. Dari mayor desain grafis cross over ke lukis. Pameran pertama, “Jimi vs Henry” digelar di ruang pamer IKJ tahun 1998 dan juga berlanjut ke beberapa project pameran di kampus IKJ. Tahun 2001 diundang ruangrupa untuk program residensi seniman bersama Henry Irawan, yang akhirnya menghasilkan pameran berjudul “Porno”.

Jimi juga sempat aktif membuat karya mural di dinding-dinding kota Jakarta. Tahun 2001, Jimi melakukan cross over yang signifikan, dari seni rupa menjadi musisi independen. Di bidang seni rupa, Jimi akhirnya menemukan profesi impiannya; art director (khusus untuk band-nya sendiri “The Upstairs”).

Pada pameran tunggal-nya yang pertama ini, Jimi -yang sampai saat ini masih aktif menggambar- mengumpulkan karya-karya lamanya dalam 7 tahun terakhir serta akan menampilkan beberapa karya terbaru. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari hal-hal yang ada di sekitarnya; kisah dari teman-teman, pergaulan, kehidupan kota masa kini dan musik yang dia dengarkan. Semuanya akan ditampilkan dalam beberapa bagian berdasarkan kurun waktu dan juga tema.

Semuanya terekam dalam gambar-gambar.
RURU Gallery


{gallery}2009/jimi_jimi_jimi/foto3{/gallery}
jimi jimi jimi

jimi adalah salah satu tipikal species seniman muda jakarta, ia menceburkan satu kakinya ke dunia industri kreatif sebagai seorang vokalis band the upstairs dan seorang penyiar radio, lalu kaki satunya berada di dunia artistik yang lebih personal. dia menggabungkan keduanya, dan dua dunia itu saling memberi kontribusi. kita bisa melihat dunia musik di karya visualnya begitu juga sebaliknya kita bisa melihat jejak jejak kontribusi artistik  jimi dalam tampilan tampilan visual ‘the upstairs’.

dia bukan seniman yang tinggal di dunia sepi dan hanya sibuk dengan cat dan canvas di studio tanpa mempunyai posisi di ruang publik. atau seniman yang hanya bersentuhan dengan dunia pop melalui majalah majalah. ia adalah seorang seniman yang berada di tengah dan menjadi bagian dari dunia yang sibuk dengan segala kenyataan industri populer. seniman dan dunia nyatanya, sebagai seorang yang setiap hari bertahan hidup di kota.

seniman yang selalu ingin menyampaikan karyanya ke publik luas ia mempunyai akses yang istimewa melalui media sebar artistik populer seperti cover cd, poster, tshirt dll. karyanya telah masuk ke public domain dengan cara yang organik dan sporadis. karya jimi pun tentunya mempunyai pengaruh yang berbeda dengan karya artistik seni rupa yang lain yang hanya berputar dalam lingkar ruang ruang seni seperti galeri. galeri jimi ada dimana mana, pameran ini adalah pameran tunggal jimi yang pertama tetapi ia telah ‘berpameran’ dan mempengaruhi banyak referensi visual orang melalui media lain.

semua karyanya pada dasarnya adalah gambar (drawing), dengan tarikan garis tinta hitam yang kuat, dan kasar tetapi juga dengan detil yang efektif. warna menjadi sentuhan akhir pengisi ruang. warna yang membuat karyanya beratmosfir pop dan kadang pscychedelic. jimi sangat tertarik dengan figure manusia, orang orang dalam karya jimi digambarkan dengan sangat ilustratif dan ia terlihat sangat terpengaruh dengan bahasa gambar komik dengan teks dan panelnya (framing). kita bisa mendapatkan berbagai pose dari figur orang orang dengan berbagai aksi atau situasi tertentu, yang kadang seperti terperangkap dalam dialog canggung dan penuh pertanyaan. beberapa wajah berada di mars.

banyak karyanya bermula dari teks yang muncul sebagai ide awal. gambar dan teks menjadi hal penting pula dalam prosesnya mencipta lirik lagu. berbicara tentang keseharian dengan segala hingar bingar dan ketidakmasuk akalan. karya jimi tidak menawarkan pesan ataupun kritiksecara langsung ia lebih menawarkan sebuah pengalaman personal jimi melihat dunia, dunia yang kita juga ada di dalamnya. pameran jimi ini akan menampilkan sebagian besar karya drawing, sketsa, teks dan mural. dalam pameran ini kita tidak hanya bisa melihat pernyataan visual tetapi lebih jauh lagi kita juga bisa melihat hubungannya dengan musik dan fashion yang selama ini telah juga menginspirasi banyak orang.

ade darmawan
jakarta, april 2009

(silahkan unduh tulisan lengkap oleh Ade Darmawan: pengantar kuratorial “JIMI! JIMI! JIMI!”)

{gallery}2009/jimi_jimi_jimi/foto4{/gallery}
Seniman Multitalenta
oleh: Indra Ameng

Pada sekitar tahun 2001, ruangrupa mengadakan music video workshop bersama dengan 2 seniman video asal Jerman; Oliver Husain dan Michel Klofkorn. Workshop ini berlangsung selama 10 hari dan mengundang 12 peserta yang semuanya adalah seniman muda yang tinggal di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Saya tidak ingin menceritakan mengenai workshop ini, tapi saya tertarik dengan latar belakang peserta yang beragam. Ada kecenderungan yang saya lihat bahwa sebagian dari seniman muda ini bekerja di beragam bidang kerja kreatif sehingga sekaligus menggeluti macam-macam profesi antara lain perupa, editor, art director, graphic designer, fashion stylist, filmmaker, video jockey, dj, photographer, performance artist, dan juga musisi. Walaupun macam-macam namanya secara profesi dan berkesan serabutan, tapi semuanya masih di area yang sama: membuat kreasi artistik.

Lain waktu lagi, di tahun 2003, saat penyelenggaraan OK.Video Festival yang pertama, ruangrupa kembali mengadakan video workshop. Kali ini bekerjasama dengan Oliver Zwink, juga seniman asal Jerman. Workshop video ini mengangkat tema tentang “Urban Space in Jakarta”. Peserta yang diundang ada 15 orang, semuanya seniman-seniman muda yang lagi-lagi juga memiliki berbagai profesi secara sekaligus. Sebagai perupa tapi juga sebagai pekerja di industri kreatif, atau sebagai perupa tapi juga sebagai musisi.

Menarik sekali untuk melihat bagaimana seniman-seniman muda ini bekerja sebagai seniman dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka menggunakan ‘kesenimanannya’ dalam menghadapi berbagai bidang kerjanya, yang pada ujung-ujungnya adalah mereka bukan hanya menggunakan ‘skill seniman-nya’ saja, tapi mereka juga memberikan kontribusi visi artistiknya pada tiap-tiap pekerjaannya. Apa yang mereka lakukan ini bukan sekedar sebuah strategi seniman untuk bertahan hidup. Menurut saya para seniman muda ini telah menemukan ‘lapangan bermain’ mereka sendiri, yang tidak tergantung kepada infrastruktur seni yang ada (sudah mapan).  

Seniman-seniman muda pada generasi 2000-an yang sebagian besar tinggal di kota besar (dalam amatan saya hanya pada 3 kota besar yaitu Jakarta, Bandung & Yogyakarta) ini memiliki kecenderungan untuk berkarya lewat medium barang-barang populer. Karya visual mereka tidak dipamerkan di galeri komersial, tapi dipamerkan di ruang-ruang alternatif yang telah memiliki audience tersendiri. Selain itu beberapa diantara mereka bekerja untuk clothing company, membuat desain dan juga membuat karya yang diproduksi dalam bentuk aplikasi desain seperti kaos, topi, poster, pin, dan aplikasi desain lainnya seperti merchandise band. Ada juga yang bekerja membuat video musik band-band lokal idola anak muda masa kini. Beberapa diantara seniman muda ini juga membentuk kelompok musik dan berubah menjadi musisi. Karya mereka ini tersebar luas, mempengaruhi selera artistik anak muda perkotaan terhadap gaya desain, fashion, musik, film, dan juga buku bacaan.. Bahkan juga mempengaruhi gaya hidup dan menginspirasi banyak anak muda lainnya untuk membuat produk kreasi artistiknya sendiri. Seniman-seniman muda ini mengangkat kesenangan dan keseharian mereka ke dalam karyanya. Kedekatan mereka dengan budaya populer, dunia sub-kultur anak muda, persentuhan kehidupan sehari-hari dengan music scene, club scene, dan juga film membuat apa yang mereka tawarkan dalam karya mereka bersifat kekinian dan dekat dengan apa yang disukai hari ini. Tiap-tiap kreasi artistik yang beragam ini menyampaikan suatu atmosfir, muatan, cerminan gaya hidup atau gagasan tentang suatu kesenangan. Mereka menawarkan apa yang ‘keren’ hari ini dan ‘gagasan-gagasan yang dibutuhkan’ hari ini lewat kreasi artistik mereka kepada publik lewat barang-barang populer. Hal ini yang menyebabkan karya mereka  digemari dan dikonsumsi oleh anak-anak muda di berbagai kota. Adanya distribusi produk yang telah memiliki jaringan luas lewat banyaknya “distro” (distribution outlet) di berbagai kota di Indonesia membantu karya-karya visual ataupun audio ini ‘menyebar’ dan kemudian sebagai lanjutannya mendapat ruangnya sendiri di kalangan kaum muda perkotaan.

Perkembangan teknologi dan alat komunikasi juga banyak membantu distribusi karya artistik. Karena di zaman akses saat ini, banyak sekali pilihan akses yang bisa digunakan untuk menangani suatu karya seni. Banyaknya pilihan akses ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi dan banyaknya alat-alat komunikasi baru. Siapapun sekarang bisa membuat website atau blog sendiri untuk kemudian ‘memajang’ karya-karyanya disana bagi siapapun yang ingin mengaksesnya, sementara seniman video bisa meng-upload karyanya di situs youtube, dan musisi bisa menyebarkan karyanya lewat situs myspace. Seniman-seniman muda ini memanfaatkan alat-alat komunikasi baru yang menyediakan peluang-peluang hebat untuk melewati kekuasaan-kekuasaan dominan yang mengontrol produksi dan distribusi karya seni.

Bagaimana seniman muda menghadapi perkembangan zamannya ini menjadi sesuatu hal yang sangat menarik. Mereka membuat karya-karya yang bersifat mudah direpoduksi dan mudah didistribusikan. Secara bersamaan mereka bisa muncul di berbagai ‘ruang yang tersedia’ menampilkan dirinya sebagai seniman sambil sekaligus menampilkan kreasi artistiknya. Secara nyata karya dan gagasannya menyebar ke publik yang lebih luas, dan bukan hanya menjadi sebuah karya yang terpajang di dinding galeri.

Dengan menggunakan alat-alat komunikasi baru, seniman dapat mencari orang-orang yang berpotensi tertarik pada karya-karya mereka sehingga mereka dapat mengembangkan pasar mereka sendiri yang cocok dengan jenis kreasi dan penampilan artistik mereka.Walaupun kemudian pada akhirnya seniman sendiri tidak mampu untuk mengubah struktur ekonomi yang sudah memberi mereka penghasilan, tapi ada fakta bahwa setiap kreasi artistik, produksi, pertunjukan dan promosi seni akan bergantung kepada usaha orang-orang yang benar-benar berkeinginan untuk melihat atau mendengar karya-karya tertentu bagi diri mereka sendiri. Sehingga jika sebuah kreasi artistik banyak diminati memang karena kualitasnya yang baik, ini yang akan membuat sebuah karya tetap hidup dan bisa terus berjalan.

(silahkan unduh tulisan lengkap oleh Indra Ameng: pengantar kuratorial “JIMI! JIMI! JIMI!”)