Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::start_lvl(&$output, $depth, $args) should be compatible with Walker::start_lvl(&$output, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::end_lvl(&$output, $depth, $args) should be compatible with Walker::end_lvl(&$output, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::start_el(&$output, $category, $depth, $args) should be compatible with Walker::start_el(&$output, $object, $depth = 0, $args = Array, $current_object_id = 0) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Declaration of CSNV_Walker_Category_Checklist::end_el(&$output, $category, $depth, $args) should be compatible with Walker::end_el(&$output, $object, $depth = 0, $args = Array) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php on line 339

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/jcarousel-post-slider/jcarousel-post-slider.php:339) in /home3/ruru456/public_html/15/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-phase2.php on line 62
15 years ruangrupa! – “JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN”

“JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN”

RURU Gallery mempersembahkan
Pameran tunggal graffiti, object, mural, instalasi
Bujangan Urban

“JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN”
(kurator: Indra Ameng)
{gallery}2008/jang_sombong_dimakan_zaman_jang_songong_dimakan_teman{/gallery}
Pembukaan pameran:
Jumat, 04 Juli 2008 (jam 19.00 s/d selesai)

di
ruru_gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya, No. 6
Tebet
Jakarta Selatan
12820
p/f: +62-(0)21-830.4220
e: info@ruangrupa.org

Pameran berlangsung tanggal 0519 Juli 2008
RURU Gallery buka setiap hari Senin sampai Sabtu, jam 11.00 – 21.00
(RURU Gallery tutup dan tidak beroperasi pada hari Minggu, serta hari libur nasional)
{gallery}2008/jang_sombong_dimakan_zaman_jang_songong_dimakan_teman/foto1{/gallery}
Terlahir dengan nama Risky Aditya Nugroho (mengalami masa kanak-kanak dan besar di daerah pinggiran ibukota Jakarta), yang sepertinya tak banyak orang mengenal nama tersebut. Mereka cenderung menggunakan kata ‘Jablay’ sebagai panggilan untuknya; walau ia sendiri lebih memilih nama “Bujangan Urban” untuk mengganti identitas dirinya. Pada tahun 2003, ‘Jablay’ mulai bergabung dengan Artcoholic, sebuah komunitas street art yang aktif merespon ruang-ruang publik di Jakarta. Selanjutnya, karya-karya Bujangan Urban dapat dengan mudah ditemui di sejumlah titik di ibukota: berupa pesan-pesan personal; menggunakan medium graffiti, mural, dan karya stensil.

‘Jablay’ hadir sebagai Bujangan Urban dalam menandai setiap aksinya. Ketertarikannya pada karya graffiti, ia padukan dengan kemampuan serta latar belakang pendidikannya (‘Jablay’ tercatat pernah mengenyam pendidikan di jurusan bahasa, dan juga desain grafis). Hal tersebut sedikit banyak bisa dibuktikan melalui karya-karyanya yang kerap menampilkan pesan-pesan personal dalam bentuk teks. Graffiti bertuliskan: “Bujangan Urban Terbangun dari Mimpinya”, adalah satu dari sekian banyak karyanya yang tersebar di ruang publik kota Jakarta.

Selayaknya coretan-coretan iseng anonim; teks-teks hasil karya Bujangan Urban juga nampak seperti puisi-puisi atau coretan yang biasa kita temui secara tidak sengaja, terserak di jalanan; di WC umum, di dalam sekat wartel atau warnet, maupun di dalam bis kota. Kekuatan dari karya-karya Bujangan Urban, tersirat kuat pada teks-teks yang ia hasilkan: ke’jahilan’nya bermain kata-kata, maupun gaya bahasa yang ia gunakan. Ia seakan berkomunikasi dengan warga kota lewat pesan-pesan personalnya tersebut. Identitas yang ia tampilkan melalui nama “Bujangan Urban” juga bersifat anonim; Karena ‘identitas’ ini bisa mewakili siapapun -selama orang itu masih bujangan-, dan tentunya tinggal di ‘kota besar’. Melalui karya-karya hasil seni graffiti-nya tersebut, Bujangan Urban tengah melakukan komunikasi dengan sesama warga kota.

Pada pameran tunggalnya kali ini, Bujangan Urban menyiasati ruangan RURU Gallery dengan tulisan-tulisan khasnya pada berbagai medium: tembok, lantai, dan juga berbagai object -yang kebanyakan merupakan benda-benda keseharian yang lekat dengan hobi anak muda kota masa kini- seperti papan skate, toys, piringan hitam, bahkan body skuter vespa. Pesan-pesan atau teks yang ditampilkan oleh Bujangan Urban mungkin nampak seperti ‘tidak bermakna’. Namun dapat dipastikan bahwa hal tersebut bisa menggugah kesadaran kita, -atau setidaknya- akan mampu membuat kita tersenyum.
RURU Gallery

(silahkan unduh tulisan lengkap oleh Indra Ameng: pengantar pameran “JANG SOMBONG DIMAKAN ZAMAN, JANG SONGONG DIMAKAN TEMAN”)

Keresahan di ruang kota
Catatan Mengenai Fenomena Seni Jalanan
oleh: M. Sigit Budi S.

Di tengah kesibukan teman-teman yang sedang mempersiapkan acara nonton bareng final sepak bola antara Jerman dan Spanyol, saya bergerak menuju Jablay, si Bujangan Urban, yang saat itu juga sedang sibuk mempersiapkan pameran tunggalnya di ruangrupa. Saya menemuinya dengan harapan akan mendapat jawaban dari pertanyaan saya beberapa hari lalu: mengapa sebuah karya mural di Dukuh Atas yang dibuat sejak 5 tahun lalu tetap bertahan hingga kini? Pertanyaan itu langsung terjawab, “Itu adalah sebuah karya legenda.” kata Jablay sambil mengambil karya-karyanya yang masih tertinggal di rumahnya dengan terburu-buru.

Saya pun meninggalkannya dengan perasaan puas, walau agak terheran-heran sebenarnya. Mural di dinding itu adalah karya kelompok GPU (Gerakan Pelukis Universal), dan situasinya saat ini agak membosankan. Warnanya memudar karena terkikis air hujan, sinar matahari dan debu jalanan. Namun ternyata nilai sejarah mural itu sangat besar, setidaknya sampai membuat para bomber Jakarta enggan untuk menimpanya dengan gambar baru. Mungkin itu hanya satu dari sekian pertanyaan yang meresahkan saya belakangan ini.

Jak@rt 2001 lalu, dimana ruangrupa terlibat di dalamnya, mungkin menjadi awal serangan besar-besaran secara serempak terhadap ruang publik di Jakarta. Di tahun itu pula saya mengenal karya-karya seperti mural, graffiti, instalasi, poster, ataupun seni performance.

Ada sebuah kejadian yang kemudian sempat membuat saya bertanya-tanya, mengapa ada karya seperti itu di jalanan? Saat itu, beberapa tembok jembatan layang antara Mampang dan Kuningan dipenuhi karya-karya mural para seniman dari dalam dan luar Jakarta.

Sampai sekarang, karya-karya di ruang publik itu terus bermunculan, dan graffiti dan stensil-lah yang paling mendominasi. Betapa dinding-dinding kota Jakarta penuh olehnya. Akibatnya, nama-nama pelaku seni jalanan (street art) pun bermunculan, dan terus bertambah hingga saat ini. Itulah fenomena yang terlihat. Namun yang terjadi belakangan ini adalah, karya-karya baru mereka mulai jarang terlihat di ruang publik, yang ada hanya bekas coret-coretan yang sudah mulai memudar seperti karya di Dukuh Atas tadi. Apa kemudian fenomena itu hanyalah tren semata? Kemana para pasukan yang dulu selalu bergerilya menorehkan karyanya di dinding-dinding kota pada malam hari?

Sebenarnya, memang tidak cukup kalau saya hanya berasumsi seperti itu. Banyak faktor yang terjadi yang mungkin dapat dimengerti alasannya. Karya seni di ruang publik memang seringkali menarik untuk diperdebatkan, walau sudah ada sebagian teman yang mulai bosan membicarakannya. Namun banyak hal yang bisa dibicarakan kembali saat ini. Misalnya, hadirnya berbagai acara yang mengusung tema urban art, yang membuat para senimannya mulai memposisikan karya mereka, dari yang biasanya tertinggal di jalan, menjadi penuh modifikasi untuk menempati sebuah ruang. Entah di sebuah galeri, rumah, atau mal sekalipun. Apa acara-acara seperti itu yang akhirnya membuat teman-teman tidak lagi berkarya di jalanan? Peran produk sebagai sponsor acara-acara itu memang sangat besar. Namun bila membicarakan kemajuan yang berarti untuk seni publik, mungkin akan terlihat atau terjawab dari karya-karya di acara-acara itu.

Para seniman jalanan yang biasanya hanya berkarya di tembok jembatan layang, pintu-tarik toko, trotoar, halte, dan sebagainya, sekarang mulai berkreasi dengan media lain. Sebut saja skateboard, sneakers, objek temuan, dan berbagai modifikasi pada benda-benda yang semula tidak mereka jadikan medium ketika berkarya di jalanan. Mungkin mereka memang mendapat kepuasan dari acara-acara itu, dan sponsor pun membiayai hasil kerja keras mereka. Hal yang sangat berbeda dengan sebelumnya, karena biasanya mereka menggunakan uang pribadi untuk berkarya di jalanan. Namun bukankah itu hanya sekadar komoditas?

Membicarakan proses berkarya di ruang publik, tanpa pernah merasakan fenomena di dalamnya, memang tidak akan bisa mendapatkan pengalaman secara menyeluruh. Ada pertimbangan yang mesti dilakukan sebelum bertindak. Ada penghargaan yang mesti diberikan, setidaknya kepada para seniman jalanan yang dengan kerelaan waktu, biaya, dan tenaga, telah mengisi kekosongan di sana, di dinding-dinding kota.

Kembali ke jalanan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Rendahnya kesadaran untuk membuat karya yang bagus, masih mengkhawatirkan saat ini. Throw up, adalah istilah untuk karya-karya buruk. Korban  dari semua itu adalah para bomber-bomber muda, yang menganggap diri mereka masih perlu belajar dan berlatih agar menghasilkan karya yang layak untuk dinikmati. Tapi dinikmati oleh siapa? Oleh mereka sendiri atau oleh masyarakat umum? Atau oleh mereka yang lebih dulu berkarya di jalanan? Seakan-akan ada seleksi yang dilakukan oleh para bomber sebelumnya, mana karya yang bagus, mana karya yang jelek dari para bomber sekarang, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, karena semuanya butuh proses dan pemahaman itu akan timbul dari diri pelaku sendiri. Lagipula, tembok-tembok kota juga bukan hanya milik para bomber, tapi milik umum. Delapan tahun lalu, juga tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk membuat karya seni di jalanan. Sekarang, karya seperti itu ada begitu banyak dimana-mana.

Kesadaran yang dimaksud, sebenarnya lebih pada kesiapan dan kerelaan seniman atas hal-hal yang akan mereka hadapi ketika berkarya di ruang publik. Sebagian bomber memang menganggap tembok yang mereka garap adalah media pencurahan ide visual dari pikiran mereka, sisanya beranggapan kalau dinding-dinding kota akan dapat menyuarakan pesan-pesan mereka, atau sekadar untuk menghias sudut-sudut kota itu sendiri. Perkara apakah sebuah karya perlu bertema, mengusung sebuah pesan, intuisi, atau sekadar vandalisme dan ikut-ikutan, itu urusan belakangan, yang penting menyenangka dan sebuah ekspresi dapat tertuang di sana. Hal itu sah-sah saja sebenarnya, namun akibat yang terjadi pasti berbeda. Berapa puluh atau ratus orang setiap harinya yang melintasi area dinding memanjang di jalan yang di depan Cilandak Town Square? Berapa pula masyarakat yang lalu memikirkan kembali apa yang baru saja dilihatnya di sana? Atau berapa orang yang tidak memperhatikan mural ketika melaju kencang dalam kendaraan mereka?  Dari memikirkan hal-hal itulah, kekuatan sebuah visual bisa dikaji kembali. Karena biaya untuk semua tampilan visual di ruang publik itu tidak murah. Baik papan penanda jalan atau papan iklan, biaya serta pajaknya tidak kecil. Begitu pula sebuah graffiti atau mural. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli aerosol, beberapa bungkus rokok, botol air kemasan? Dan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan semua itu? Belum lagi faktor keamanan diri, terhadap aparat, preman setempat, angin malam, sampai debu jalanan. Namun di lain pihak, hanya di jalananlah hal-hal itu bisa dialami.  Ketegangan-ketegangan itu yang memicu para seniman jalanan ini untuk terus berkarya. Di saat seisi kota sedang tidur, mereka bergerilya, lalu keesokan harinya, sudah ada karya baru di sana.

Namun apakah mereka juga cermat mengamati perubahan tersebut? Mari mulai mengatur strategi. Sekadar mengingatkan betapa besarnya perjuangan, kerelaan, dan kesadaran-kesadaran baru yang harus dilakukan untuk mengeksekusi karya di jalanan, akan lebih baik jika semuanya dikerjakan secara maksimal.

Ruang kosong atau dinding-dinding kota, memang erat sekali kaitannya sebagai lokasi untuk berpromosi dan berkarya. Media iklan memang diproduksi secara masif, dan akhirnya penempatannya pun seringkali sembarangan. Campur-aduk, timpa-menimpa, dan tersusun seenaknya. Begitu pula tempat-tempat di mana graffiti terpampang, di kolong jembatan, pintu-tarik toko, trotoar, halte dan tempat lainnya. Dari sekian banyak lokasi yang bisa digarap, tetap saja perebutan tempat sering terjadi. Ada yang saling menimpa karya, atau bahkan mengakui karya orang lain sebagai karya pribadi dengan menambahkan tagging sebagai identitas diri.

Permasalahan yang semestinya juga dipahami bukan hanya tentang perlakuan-perlakukan diantara sesama pelaku seni di jalanan, melainkan juga terhadap masyarakat kota. Cobalah berandai-andai menjadi masyarakat yang setiap harinya harus melihat situasi di sekitarnya yang penuh dengan visual-visual seperti itu. Graffiti, poster, stiker, spanduk, umbul-umbul partai, sampai papan iklan raksasa yang terkadang rubuh karena konstruksi yang tidak memadai. Kenikmatan mata memandang, bisa menjadi permasalahan yang perlu dipertimbangkan, juga bisa menimbulkan pertanyaan: polusi visual seperti apa yang kita hadapi sekarang?

Kota memang tidak akan pernah lepas dari permasalahan-permasalahan tersebut. Sebuah kota telah lahir sebelum perbincangan-perbincangan itu hadir. Ruang publik tidak menggolongkan penghuninya. Ruang publik tidak memilah strata. Rasa khawatir terhadap sebuah kota selalu bermunculan. Harapan akan kemajuan sebuah kota pun akan selalu ada. Kota akan terus berkembang dan berubah selama waktu bergulir. Dimana kebutuhan akan selalu terus bertambah, dan jumlah kelahiran dan kedatangan akan melebihi nilai kematian. Mari hargai kota kita.