ruangrupa 15 years anniversary

Lima Belas Tahun ruangrupa

SAAT RUANGRUPA DIDIRIKAN di Jakarta pada 2000, tidak satu pun dari keenam pendirinya (Ade Darmawan, Hafiz, Ronny Agustinus, Oky Arfie Hutabarat, Lilia Nursita, Rithmi) yang mengira kalau organisasi seni rupa kontemporer ini akan berumur panjang. Itulah sebabnya ketika akhirnya organisasi ini berusia sepuluh tahun, diadakan semacam acara syukuran berupa pameran bersama. Selain untuk menengok ulang perjalanan ruangrupa sendiri, acara bertajuk “ruangrupa’s 10 Years Anniversary: Expanding the Space and Public” yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 2010 itu juga dibuat untuk melihat kembali perjalanan kerjasama organisasi ini dengan banyak pihak, baik individu, kelompok, organisasi, komunitas, dan berbagai institusi seni, budaya, sosial, maupun politik, yang dalam satu dekade itu bekerjasama tanpa kapok, secara bergantian atau terus-menerus.

Pada 2015 ini, ruangrupa berusia lima belas tahun—dengan perjalanan yang bukan tanpa gejolak. Penyebabnya ada dua. Pertama, sebagian pengurusnya yang usianya sudah masuk kepala empat dan pertengahan kepala tiga mulai kewalahan. Selain menjalankan program internal, selama ini mereka juga terlibat dalam berbagai aktivitas lain yang tak kalah penting. Sejak awal, kerja-kerja organisasi ini memang didesain begitu leluasa agar tiap orang dapat terus berkarya secara individu. ruangrupa justru gembira kalau mereka yang bekerja di dalamnya memiliki peran di luar ruangrupa. Namun, seperti bisa ditebak, mereka yang aktif di luar tak jarang jadi hiperaktif lalu kelelahan, yang semula cuma keluyuran jadi tak pulang-pulang, sementara program-program internal harus terus dijalankan.

Kedua, bermunculannya kawan-kawan baru—juga kembalinya kawan-kawan lama—yang akhirnya sering dilibatkan, terlibat, atau juga melibatkan dirinya dalam banyak program ruangrupa. Kehadiran mereka menyuntikkan energi baru. Bukan cuma karena sebagian besar dari mereka berusia muda sehingga keberadaan mereka seringkali membuat suasana menjadi lebih gaduh, melainkan karena mereka memperkaya diskusi dan gagasan dengan aneka perspektif.

Akan tetapi, sekalipun perbedaan usia antar-pengurusnya selama ini tak pernah jadi persoalan serius, perbedaan tetaplah ada. Bagaimana tiap orang memaknai ruangrupa, itu berbeda. Bagi para pengurus lamanya, ruang ini sudah jadi rumah kedua—bahkan rumah pertama bagi yang jarang pulang. Sementara bagi gerombolan-gerombolan yang datang belakangan ini, ruangrupa tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi lebih jauh telah dianggap sebagai bagian dari perjalanan karier, semacam kantor, atau apa pun yang berkesan resmi, termasuk juga sebagai tempat kursus, menuntut ilmu, maupun menimba pengalaman. Ada sikap bereksperimen yang berbeda dari kedua anggapan itu. Berbeda dengan para pengurus lama yang awalnya mengerjakan proyek-proyeknya sambil jalan, dengan berani, tidak takut salah, serta penuh keyakinan—karena tidak banyak contoh juga pada awalnya—para pendatang baru yang berusia muda jadi bekerja dalam bayang-bayang standar tertentu—yang awalnya tak terperhatikan sebagai standar oleh para pengurus lawas, yang percaya bahwa keberadaan standar harus terus-menerus ditantang. Dinamika ini melanda selama beberapa waktu sebelum akhirnya berhasil diatasi. Pada usia 15 tahun ini, ruangrupa lebih melihat ke dalam, yaitu pada tubuh organisasinya, yang untuk kesekian kalinya, susunannya perlu diubah agar terus langgeng sebagai organisasi yang matang namun tetap bugar.

Setiap individu yang bekerja di dalam ruangrupa memiliki karakteristik masing-masing, baik dalam pilihan profesinya, pengetahuan yang dipelajarinya, keahlian yang dilatihnya, selera yang dikonsumsinya, termasuk hobi-hobi ganjil obsesifnya, yang memperkaya organisasi, dan menjadikan setiap orang memiliki peran yang bisa dibilang tidak tergantikan. Ketimbang memandang ruangrupa sebagai organisasi kaku yang menganggap bahwa siapa pun bisa menggantikan posisi tertentu di dalamnya, barangkali lebih pas untuk memandangnya sebagai sebuah kelompok musik, yang seiring perjalanan memperkaya dirinya dengan banyak musisi dan beragam instrumen.

Ada beberapa hal yang akhirnya harus diubah. Pertama, menjadikan pengurus-pengurus lawas, yakni Ade Darmawan, Hafiz, Indra Ameng, Reza Afisina, Mirwan Andan, dan Iswanto Hartono, menjadi serupa collective board. Mereka bertugas untuk menjalin jaringan, bekerjasama dengan lembaga lain, melakukan penelitian-penelitian, juga mencari dana, sembari tetap menjadi teman ngobrol demi menjaga kualitas program dari dalam. Dengan begitu, mereka bisa leluasa menjalankan peran dan aktivitasnya di luar organisasi sekaligus menjadi kolaborator dalam setiap kegiatan ruangrupa.

Kedua, merombak sejumlah divisi dan program dengan beberapa cara: mengurai beban kerja divisi yang memiliki terlalu banyak program, memperkuat ikatan sejumlah divisi yang memiliki kesamaan kerja, melahirkan divisi baru, serta menempatkan rekan-rekan pengurus baru. Melalui perubahan ini, diharapkan tiap-tiap divisi tersebut dapat lebih berkembang dan seluruh rekan dapat merasa lebih memiliki wewenang di ruangrupa untuk membawa divisi masing-masing ke tempat-tempat yang tak terbayangkan sebelumnya, dengan berani, tidak takut salah, serta penuh keyakinan dan kemandirian.

Pondasi organisasi kemudian dilengkapi. Tim manajemen tetap dikelola oleh manajer Ajeng Nurul Aini, seorang nona heboh setengah gila yang selama bertahun-tahun begitu piawai membuat rekan-rekannya, yang kebanyakan adalah pria, menjadi ketagihan untuk diperintah dan diperingatkan olehnya. Sementara itu, urusan keuangan dikelola oleh Daniella F., alias Kunil atau ibudisko—seorang ibu-ibu yang lebih senior dalam soal kehebohan, tapi sangat teliti, telaten, dan penuh empati dalam mengurus keuangan sekaligus piawai mengatasi segala kekacauan laporan keuangan yang dilakukan oleh rekan-rekannya. Kunil, adalah pengurus lama yang kembali. Ia menggantikan Laurentius Daniel, seorang ahli keuangan, yang dengan semena-mena—hanya karena penampilannya yang selalu rapi—dijuluki sebagai Dokter Lory. Pada akhirnya, Dokter Lory harus pamit mengurus pasien-pasien yang lain. Namun, selain jasanya yang tak terlupakan, kehadirannya pun dipertahankan—setidaknya kita masih bisa menemukan Dokter Lory di Grup Whatsapp ruangrupa.

Tim manajemen ini juga didukung oleh Samuel Bagas alias Gentong, seorang pemerhati politik dunia beserta segala teori konspirasinya, yang bertugas mengurus rumah tangga, memastikan kenyamanan setiap ruang dan fasilitas bagi siapapun untuk dapat bekerja dengan bahagia.

Divisi Arsip dan Dokumentasi, adalah divisi baru yang dikelola oleh Lisna Dwi Atmadiarjo dan Ari Rusyadi. Lisna, pustakawan serba bisa ini, selama bertahun-tahun sebelumnya telah mengelola perpustakaan ruangrupa dan saat ini sedang merancang sistem penangkal jitu bagi rekan-rekannya yang suka pinjam-buku-lupa-kembali. Selain itu, ia juga menjalin kerjasama kepustakaan dengan berbagai lembaga. Sementara Ari, seorang sutradara dan produser video dokumenter dan iklan, akan mengelola dokumentasi audio-visual berbagai kegiatan ruangrupa. Divisi Arsip dan Dokumentasi akan bekerjasama dengan pengelola website baru, yaitu Abi Rama, seorang seniman grafis yang irit bicara tapi boros bekerja. Abi diharapkan dapat mengakhiri masa tidak-informatifnya situs ruangrupa, sehingga apa saja yang dilakukan organisasi yang sering dikira sebagai komunitas, Event Organizer, atau malah sanggar lukis ini menjadi lebih jelas dan menarik untuk diketahui publik luas.

Sementara itu, Artlab, divisi eksperimentasi dan kolaborasi seni rupa, yang semula dikelola oleh Reza Afisina, kini jalankan oleh seorang kurator dan segerombolan seniman muda. Mereka adalah Riksa Afiaty, peneliti dan kurator muda yang juga seorang pemerhati street art, yang menjadi koordinator rekan-rekannya: Saleh Husein, seniman muda yang kariernya sedang naik daun, juga dikenal sebagai gitaris White Shoes & The Couples Company; dan Cut and Rescue, sekelompok seniman yang dikenal dengan karya-karya kolasenya, mereka terdiri dari Mario Julius, Syaiful Ardiyanto, Angga Cipta, Aditya Fachrizal Hafiz alias Gooodit, dan Rafsan Yuono alias King Acan. Artlab juga didukung oleh Hauritsa, seorang desainer andal, yang senang bekerja dan konon, kini mulai senang berbicara.

OK. Video, yang sebelumnya berupa festival seni video, berubah menjadi divisi yang fokus pada pengembangan seni berbasis teknologi media di Indonesia. Perkembangan teknologi audio-visual mendorong divisi yang semula lebih memerhatikan karya-karya video ini menjadi lebih terbuka pada kebaruan gagasan kolaborasi dan persilangan antara seni, ilmu pengetahuan, media, dan teknologi melalui berbagai programnya: festival dua tahunan OK. Video sendiri, pameran dan performance seni media dan teknologi, lokakarya, pendokumentasian, serta produksi dan distribusi karya-karya seni media di Indonesia. OK. Video dikelola oleh Mahardika Yudha, yang biasa dipanggil Diki, sebagai Koordinator Utama. Diki seorang seniman video, kurator muda, dan peneliti andal yang pendiam, rendah hati, gila kerja, dan baru saja melepas masa lajangnya tahun ini. Ia ditemani oleh Deasy Elsara, biasa dipanggil Sara, yang berlaku sebagai manajer. Ia yang selalu memerhatikan perkembangan terkini perihal sosial, politik, dan budaya anak muda ini, dikenal telaten mengurus pernak-pernik manajemen.

Selain itu, ada dua divisi yang dibubarkan. Pertama, adalah Divisi Penelitian dan Pengembangan, karena peran dan sifatnya dapat langsung dilakukan oleh collective board tersebut. Kedua, Divisi Dukungan dan Promosi, yang dibubarkan karena memiliki terlalu banyak program (Jakarta 32°C, RURU Gallery, dan lokakarya penulisan dan kuratorial). Dua program, Jakarta 32C dan RURU Gallery, dijadikan divisi tersendiri dan dua program lokakarya dialihkan ke bawah divisi edukasi.

Jakarta 32°C, forum dan pameran besar dua tahunan karya-karya visual mahasiswa Jakarta, dikembangkan menjadi divisi baru dengan program-program yang akan terus berjalan di antara jeda penyelenggaraan pameran tersebut. Program-program baru tersebut juga diadakan untuk menjalankan berbagai kolaborasi maupun edukasi kreatif dengan para mahasiswa Jakarta. Mulai 2015, Jakarta 32°C dikelola oleh Andang Kelana dan M. Sigit Budi S. Andang Kelana adalah seorang pemuda banyak kemampuan yang aktif sebagai Sekretaris Jenderal di organisasi Forum Lenteng, dan M. Sigit Budi S., yang merupakan Direktur organisasi Serrum, adalah seorang yang piawai dalam mengelola produksi pameran.

Mulai 2015 pula, RURU Gallery, sebagai pendukung perkembangan karya seniman muda, kini dikelola oleh seorang kurator tetap, yaitu Leonhard Bartolomeus. Pemuda serba bisa lulusan IKJ jurusan keramik yang ramah dan bikin banyak orang kerasan bekerja bersamanya ini dipercaya untuk menjadikan RURU Gallery sebagai ruang eksperimentasi seniman-seniman muda berbakat dan berbahaya, yang diharapkan dapat menawarkan konsepsi baru mengenai kegiatan pameran itu sendiri dalam ranah seni rupa kontemporer, paling tidak di Jakarta, kalau bukan Indonesia. Didukung sepenuhnya oleh otot terampil Bang Jack, Barto akan menjalin kerjasama dengan kurator, seniman, penulis, desainer, dan kolaborator lain.

Telah menjadi mimpi banyak rekan di ruru untuk membuat sebuah lembaga edukasi. Setelah memformulasikannya selama setahun lebih, akhirnya pada 2015 ini kami memberanikan diri untuk memulai sebuah sekolah seni rupa, yang bernama Institut ruangrupa (Ir.). Lembaga pendidikan tanpa gelar ini dibuat untuk mencetak seniman, kurator, manajer, produser, penulis—maupun gabungan di antaranya. Lembaga ini nantinya akan menerima peserta terseleksi, dengan program berdurasi kurang-lebih dua tahun, dan menawarkan metode pendidikan yang akan menitikberatkan pada produksi pengetahuan demi menciptakan praktisi yang, menjadikan kota sebagai laboratorium, menjadikan ruangrupa sebagai wahana praktik dan diskusi, mengajarkan berbagai pengetahuan seni, sosial, budaya, dan politik yang dibutuhkan untuk menciptakan pekerja-pekerja seni yang tangguh dan peka, serta melibatkan pengajar-pengajar ahli, baik mereka yang termasuk collective board (Ade Darmawan, Hafiz, Indra Ameng, Reza Afisina, Mirwan Andan, dan Iswanto Hartono), juga berbagai intelektual publik, akademisi, praktisi, maupun aktivis dari berbagai disiplin ilmu. Institut ruangrupa dikelola oleh Farid Rakun dan Ardi Yunanto, dua arsitek murtad multitalenta yang cukup lama tergabung dalam ruangrupa dan selama ini mengelola jurnal Karbon dan melakukan banyak penelitian. Bersama-sama maupun sendiri-sendiri, mereka banyak terlibat dalam proyek-proyek budaya multidisiplin, juga sebagai dosen resmi maupun pengajar jadi-jadian di kelas-kelas kampus maupun sesi-sesi lokakarya.

Jurnal Karbon—yang semula dikelola oleh Ardi dan Farid—yang tetap dalam format online, mulai 2015 ini dikelola oleh Trio Bukan Macan, yaitu Berto Tukan, Mochamad Abdul Manan Rasudi, dan Windu Jusuf; para penulis muda yang penuh gelora, yang lebih dikenal sebagai pengasuh rubrik budaya situs IndoProgress, di samping juga sebagai pengajar, aktivis dadakan, penikmat sembarang musik, calon filsuf yang pasti gagal, maupun penggila game dan pencinta skandal. Mereka akan bekerjasama dengan banyak penulis, seniman, fotografer, desainer, dan berbagai profesi lain, untuk membuat jurnal Karbon menjadi lebih kritis terhadap persoalan-persoalan urban dan budaya visual melalui cara-cara yang lebih kreatif.

Terakhir dalam soal per divisian, adalah Divisi Unit Usaha ruangrupa. Divisi ini sejak beberapa tahun silam didirikan demi masa depan yang lebih mandiri secara finansial. Semula, divisi ini berupa RURU Corps, unit usaha yang mengerjakan berbagai proyek komersial. Namun, di sisi lain, juga terdapat Ruru Shop, sebuah toko yang menjual produk-produk eksentrik karya seniman dan pekerja budaya. Dapat dikatakan hampir secara kecelakaan, ruangrupa mendirikan sebuah radio online dengan tagline “radio kontemporer tanpa gelombang” yang semula bernama RuruShop Radio—hanya karena posisinya menempel pada ruang lawas Ruru Shop dan bertujuan mendukung toko tersebut. RuruShop Radio kemudian berganti nama menjadi RURUradio. Ketiganya, RURU Corps, Ruru Shop, dan RURUradio, mulai 2015 diikat dalam naungan Divisi Unit Usaha, sambil tetap bebas menjalankan program dan kegiatannya masing-masing.

RURU Corps sendiri, sebagai sebuah biro komunikasi visual yang didirikan oleh tiga organisasi seni (ruangrupa, Forum Lenteng dan Serrum)—seperti sejak pertama kali dibentuk—dikelola oleh seorang seniman, fotografer, dan videografer Julia Sarisetiati, yang sering terlibat dalam berbagai pameran maupun residensi di dalam maupun luar negeri, sebagai pengarah kreatif. Julia Sarisetiati, biasa dipanggil Sari, didampingi oleh Maya, seorang pekerja keras yang kerap mengerjakan banyak proyek sekaligus, sebagai manajer. Mulai 2015, RURU Corps akan mengoptimalkan potensi bisnis dan kerjasama dari setiap program dan divisi ketiga organisasi pendiri. Sementara itu RRRec Fest, perhelatan musik alternatif tahunan ruangrupa, kini dikelola oleh duo Pasangan Baru, yaitu Nastasha Abigail dan Dimas Ario, dan disupervisi oleh The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan). Tahun ini akan menjadi kali pertama RRRec Fest diadakan oleh Divisi Unit Usaha.

Sementara itu, Ruru Shop dikelola oleh Ayu Dila Martina dan Denny Darmawan. Ayu Dila adalah seorang seniman dan fashion designer. Denny adalah pekerja sigap calon pebisnis besar. Mereka mengadakan banyak kerjasama dengan para seniman dan musisi untuk berkolaborasi menciptakan produk-produk artistik dengan harga yang terjangkau. Ruru Shop juga mendukung penjualan produk-produk kreatif dan edukatif melalui toko yang buka setiap hari dari siang sampai malam di ruangrupa.

Terakhir, adalah RURUradio. Radio online yang merupakan hasil keisengan yang konsisten, gabungan dari pemanfaatan teknologi radio online dan kejahilan mulut yang dirasa belum memiliki corong yang memadai. RURUradio juga dibentuk karena keresahan pendiri-pendirinya yang menganggap radio-radio arus utama kian membosankan karena banjir iklan, yang bukan cuma memangkas jam siaran—dan pemutaran musik, tentunya—melainkan turut dikumandangkan lewat mulut para penyiarnya. Mulai siaran suka-suka sejak 2011, RURUradio, sebagai divisi paling serius dalam mengembangkan kebebasan menyampaikan pendapat lewat suara ini, diurus oleh banyak orang. Di antaranya adalah Mushowir Bing dan Oskar deKemano, dua pengarah artistik andal bertangan dingin yang telah belasan tahun malang-melintang dalam berbagai kerja-kerja artistik video musik, iklan, maupun film di Indonesia, dan terhitung telah terlibat di ruangrupa sejak awal pendiriannya. Selain itu, adalah Hauritsa, yang selain tergabung di Artlab, juga mengelola jalannya radio yang makin memiliki banyak penggemar ini sebagai manajer program. Saking menggembirakannya bayangan masa depan radio ini, RURUradio kini diurus oleh oomleo (ditulis menyambung dengan huruf kecil semua). Terlahir sebagai Narpati Awangga, ia adalah seniman piksel, penggila game dan segala sesuatu di Internet yang bisa dicari, disimpan, dibajak, dan diolah kembali. oomleo meninggalkan jabatannya sebagai koordinator IT dan Website ruangrupa dan, tanpa bisa dicegah semua orang, mendaulatkan diri sebagai Direktur RuruRadio, atau istilah resmi ala dia: Direktur-pimpinan-bos-besar RuruRadio. Dalam memimpin RURUradio, ia dibantu sepenuhnya oleh Arie Dagienkz—seorang penyiar radio terkemuka, yang baik suara, tingkah laku, maupun wajahnya sudah tak asing lagi bagi penggemar orang-orang sinting di Indonesia—yang kini mendedikasikan kegilaannya untuk menjadikan RURUradio sebagai: “RADIO TANPA GELOMBANG KEBANGGAAN INTERNASIONAL DUNIA TANAH AIR”. Tolong jangan tanya apa maksudnya, mengingat tidak semua fenomena di dunia ini bisa terjelaskan. Silakan dengarkan saja RURUradio di www.rururadio.org.
*

 

Salah satu program besar ruangrupa pada 2015 ini adalah OK. Video, yang merupakan kali ketujuh semenjak diadakan pada 2003. Pada tahun ini, OK. Video resmi mengubah nama lengkapnya, dari OK. Video – Jakarta International Video Festival menjadi OK. Video – Jakarta Media Arts Festival. Perluasan fokus OK. Video, dari “seni video” menjadi “seni media”, sekaligus memperluas fokus medium artistik, menjadi tidak sekadar menghadirkan karya-karya berbasis gambar bergerak (video dan film) dan bersifat instalatif, tetapi juga membuka kemungkinan pada seni performance, seni bebunyian (sound art), maupun seni berbasis Internet dan interaktivitas. Perluasan itu diharapkan dapat membuka kemungkinan gagasan artistik baru terhadap isu-isu kritis yang diusung dalam setiap perhelatan OK. Video. Turut mengingat kembali 50 tahun dimulainya era orde baru dan melihat secara kritis politik media saat itu, OK. Video mengusung tema “Orde Baru”. Festival OK. Video berlangsung pada Juni 2015 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Perhelatan ini sekaligus menjadi perayaan kecil-kecilan 15 tahun ruangrupa.

Pada 2015, RRRec Fest kembali hadir sebagai festival musik tahunan yang didedikasikan untuk merayakan perkembangan musik dan kesenian kontemporer lintas negara. RRRec Fest 2015 akan berlangsung di area kamping Tanakita, Sukabumi, Jawa Barat pada September dan di Jakarta pada Desember 2015.

Dalam kesempatan ini, dengan bangga dan was-was kami mengumumkan bahwa ruangrupa terpilih sebagai kurator bagi International Contemporary Arts Exhibition SONSBEEK 2016 (www.sonsbeek.org). Tentu saja ini adalah penghargaan, tantangan sekaligus kerja berat, dan bisa dianggap sebagai kado 15 tahun yang sangat berarti.

Semoga dalam usianya yang kelimabelas ini, dengan ide, mimpi dan pengelolaan yang baru, ruangrupa tidak hanya dapat terus hidup hingga melampaui bayangan siapa pun yang bekerja di dalamnya, tetapi juga dapat terus menawarkan gagasan kritis dan imajinatif bagi publik.***

 

 

 

Jakarta, 9 Maret – 12 Juni 2015

 

Ditulis oleh Ardi Yunanto mewakili ruangrupa, hasil dari obrolan 48 orang selama rapat dua malam suntuk di Tanakita, Sukabumi, Jawa Barat, pada 7-9 Januari 2015. Dikerjakan dalam beberapa hari di bawah pengaruh buruk teror mental Ajeng Nurul Aini, lalu disunting selama berbulan-bulan dengan ganas tapi bijak oleh Ade Darmawan. Kemudian disunting lagi oleh Leonhard Bartolomeus sampai dirinya jatuh sakit—sebelum disempurnakan kembali bersama-sama. Semuanya, tetap di bawah ancaman Ajeng Nurul Aini tersayang.

 

 

FIFTEEN YEARS OF RUANGRUPA

When ruangrupa was founded in Jakarta in 2000, not one of the six founders (Ade Darmawan, Hafiz, Ronny Agustinus, Oky Arfie Hutabarat, Lilia Nursita, Rithmi) thought that this contemporary art organization would have a lasting existence. That is why when this organization reached its 10th anniversary, a collective exhibition was held as an expression of gratitude. In addition to glance back at ruangrupa’s own journey, the event called “ruangrupa’s 10 Years Anniversary: Expanding the Space and Public” held in the National Gallery of Indonesia, Jakarta, in 2010, was also put together to review its collaborations with many parties; the many individuals, groups, organizations, communities, and various other social, political, cultural institutions that during a decade have relentlessly collaborated, alternately or continuously.

This year, 2015, ruangrupa is fifteen years old—a journey carried through on bumpy roads along the way. There are two explanations for that. First, some members entering the ages of forties and mid-thirties have started to become overwhelmed. Besides running internal programs, they have also been involved in various other equally important activities. Since early on, the running of this organization has been designed loosely so that every member can still work individually. ruangrupa is actually pleased when those who work in it play some roles outside the organization. However, it is foreseeable that those who are active outside then become “hyperactive” and worn out, straying at first then never returning while internal programs still have to roll on.

Second, the appearance of new friends—as well as the return of former ones—whom then asked to get involved, gotten involved, or basically involving themselves in many of ruangrupa’s programs. Their presence injected new spirit. Not only because most of them are still young and prone to cause a stir, but also because they tend to enrich discussions and ideas through various perspectives.

Yet, even though “the age gap” has never caused any serious issues amongst the members of ruangrupa, the “gap” still exists. How each person sees the significance of ruangrupa differ to one another. To the original members, this space has become their second home—first, even, for those rarely leave to go home. Meanwhile, for the latter flocks, ruangrupa is not only seen as a place to gather but also as part of a career journey, some kind of office, or something official, as well as a learning space, a place to study, and to gain experiences. Different experimental attitudes underlie those two views. Unlike the old members; who have experienced running programs by trials and errors, in bold and fearless conviction—since there was no example set previously, these young newcomers have to work under the shadows of certain standards—unnoticeable, at first, by the old members who believe that standards must always be challenged. This dynamic was happening for some time before it was finally dealt with. In its 15th years now, ruangrupa looks further inside, into its organizational body, which for the umpteenth time requires changes to be able to sustain as a mature and always healthy organization.

Each individual working in ruangrupa has their own characteristics; which can be spotted in their choices of professions, their knowledge learned, their skills honed, their choices of tastes consumed, and also their odd hobbies and obsessions, that have enrich the organization and making each of them irreplaceable. Rather than looking at ruangrupa as a rigid organization with views that someone else can easily replace anyone in a certain position, it is more apt to view it as a musical ensemble that enriches itself along the way with various instruments and other musicians.

Like they say, “Some things have got to give”. First, is to position the old members (i.e. Ade Darmawan, Hafiz, Indra Ameng, Reza Afisina, Mirwan Andan and Iswanto Hartono) in a kind of collective board. Their tasks are building networks, collaborating with other institutions, conducting researches, raising funds, while maintaining their routine as partners in discussions to maintain the quality of programs from the inside. Thus they can freely have their roles and activities outside the organization, while still being collaborators in all ruangrupa’s activities.

Second, is to revamp divisions and programs through several steps: breaking down the load of divisions that handle too much, strengthening ties of divisions that have common tasks, creating new divisions, and placing new people in the structure. With these changes, it is expected that each division can develop itself better and everyone can gain more sense of authority in ruangrupa to bring their divisions to places that were unimaginable before, in bold and fearless conviction, and with independence.

The organization’s foundation is then completed. Managerial team is still led by Ajeng Nurul Aini, a loud half-wacky lass who for years has skillfully made her co-workers, mostly male, addicted to be bossed around and alerted by her. Meanwhile, Finance is handled by Daniella F. a.k.a. Kunil or ibudisko (motherdisco); a mother figure who is more senior in loudness, but so meticulous, persevering, and emphatic in dealing with accounting and masterly in clearing up messy financial reports by her colleagues. Kunil is one of the old members that have returned. She had replaced Laurentius Daniel, a finance expert who arbitrarily—just because of his neat look—is called Doctor Lory. In the end, Doctor Lory had to leave to take care of other patients. But not only will his previous service for ruangrupa be forgotten, we will always retain his presence—at least in ruangrupa’s WhatsApp group.

The managerial team is supported by Samuel Bagas a.k.a. Gentong, an observer of world politics and all its conspiracy theories whom takes care of the house, making sure everyone is comfortable, facilitated, and able to work happily.

Archive and Documentation Division is a new department managed by Lisna Dwi Atmadiarjo and Ari Rusyadi. Lisna, an all-round librarian, have been managing ruangrupa’s library for years and now is designing a deterrent system for “those who borrow but never return”. She is also building library networks with other institutions. Ari, a documentary and advertising director slash producer, is to manage the audio-visual archive of ruangrupa’s many activities. Archive and Documentation Division will cooperate with the new website administrator, Abi Rama–a graphic artist who talks little and labor much. Hopefully Abi will bring to an end the hiatus of ruangrupa’s website; so that everything this organization–that has often thought of as a community, event organizer, or even painting workshop–does can finally be crystal clear and more interesting for the public at large.

Artlab, a division of artistic experimentation and collaboration that was previously led by Reza Afisina, is now run by a curator and a group of young artists. They are: Riksa Afiaty, a young curator and researcher who is also a street art observer, playing the role as coordinator to her colleagues; Saleh Husein, a young artist who is on the rise, also known as guitarist of the band White Shoes and the Couples Company; and Cut and Rescue, a group of artists renown for their collages works, comprising Mario Julius, Syaiful Ardiyanto, Angga Cipta, Aditya Fachrizal Hafiz a.k.a. Gooodit, and Rafsan Yuono a.k.a King Acan. Artlab is also supported by Hauritsa, an excellent designer who loves working and has now allegedly starts to love talking, a bit.

OK Video, previously a video art festival, has changed to a department focusing on media technology of Indonesia based art. Audio-visual technology development has driven this previously focusing on video works division to shift to new collaborative ideas and the crossroads in art, science, media, and technology through its assorted programs: the biannual OK. Video festival itself, media and technology art exhibitions and performances, workshops, documentation, as well as the production and distribution of media artworks in Indonesia. OK. Video is led by Mahardika Yudha, nicknamed Diki, as its chief coordinator. Diki is a video artist, a young curator, and an excellent researcher; he is a quiet, humble workaholic who has just tied the knot this year. He is aided by Deasy Elsara, nicknamed Sara, who acts as the manager. Always in tune with the latest updates on social and political culture of the youth, she is known to be scrupulous when it comes to managerial knick-knacks.

All in all, two divisions have been discontinued. First, Division of Research and Development, since its roles and characteristics are now taken over by the collective board. Second, Division of Support and Promotion is liquidated due to programs overload (Jakarta 32°C, RURU Gallery, writing and curatorial workshops). Two programs, Jakarta 32°C and RURU Gallery, have became divisions on their own; while the two workshops were put under the charge of the education division.

Jakarta 32°C, the biannual forum and exhibition of visual art works by Jakarta’s students, is going to develop as a new division with ongoing programs in between its once every two years festivities. Those new programs will run as collaborative or creative education together with students in Jakarta. Starting from 2015, Jakarta 32°C will be organized by Andang Kelana and M. Sigit Budi S. Andang Kelana, a young renaissance man, is the General Secretary of Forum Lenteng; while M. Sigit Budi S., the Director of Serrum, is an expert of exhibition production.

Also from 2015 on, RURU Gallery, a facility for developing young artists, is now managed by a permanent curator, Leonhard Bartolomeus. This all-round IKJ graduate of Ceramics Department who is friendly and fun to work with, is trusted with the idea to make RURU Gallery an experimentation space for young, talented, and dangerous artists; which hopefully will offer new conceptions for exhibitions in the contemporary art world, at least in Jakarta if not in Indonesia. Fully supported by the dexterous muscles of Bang Jack, Barto will work together with curators, artists, writers, designers, and other collaborators.

It has been a dream of many friends at ruru to establish an educational institution. After having it formulated for more than a year, in 2015 we finally brace ourselves to start an art school called the Institut ruangrupa (Ir.). This non-degree Institution is founded to generate artists, curators, managers, producers, writers—or anything in between. Institut ruangrupa (Ir.) will select participants for approximately two years program and offer methods that emphasize on knowledge production in order to shape practitioners who–with the city as their laboratory–utilize ruangrupa as a practice and discussion vehicle; teaches various forms of art, social, political, cultural knowledge required to create tough and sensitive art workers; involving experts as lecturers, including those in the collective board (Ade Darmawan, Hafiz, Indra Ameng, Reza Afisina, Mirwan Andan, dan Iswanto Hartono) and other public intellectuals, academicians, practitioners and activists of many backgrounds. Farid Rakun and Ardi Yunanto, two multi-talented defectors of architecture who have long joined ruangrupa, as the organizers of the Karbon journal and doing researches, will lead the Institute of ruangrupa. Both, together or on their own, have been involved in multidisciplinary cultural projects and teachings, whether officially or “offside”, in campus classes and workshop sessions.

The Karbon journal—managed by Ardi and Farid at first—in online format, starting from 2015, is organized by Trio Bukan Macan (Not Trio Macan), i.e. Berto Tukan, Mochamad Abdul Manan Rasudi, and Windu Jusuf; vivacious young writers who are better known as the caretakers for the culture column of IndoProgress website, apart from being lecturers, impromptu activists, music connoisseurs, failed philosopher wannabes, game maniacs, and scandal lovers. They will work together with many writers, artists, photographers, designers, and other professionals to make the Karbon journal sharper in its criticisms toward urban and visual culture issues in more creative ways.

Lastly, on the subject of divisions, is the ruangrupa’s Business Unit. Several years ago this division was founded for the sake of a more financially independent future. Initially it constituted RURU Corps, a unit that conducted a variety of commercial projects. But there has also been Ruru Shop, which trades in eccentric products made by artists and cultural workers. Almost accidentally ruangrupa had also started an online radio, under the tagline “contemporary radio with no frequency”, which originally called RuruShop Radio—because it established itself attached to the old Ruru Shop and was intended to support the shop. RuruShop Radio then changed its name to RURURadio. The three of them, RURU Corps, Ruru Shop, and RURUradio, from 2015 on are united in the Business Unit and free to run their programs plus activities.

Meanwhile, RURU Corps, as a visual communication bureau founded by three organizations (ruangrupa, Serrum, and Forum Lenteng) is—since the beginning—led by an artist, photographer, and videographer Julia Sarisetiati; who is often involved in diverse exhibitions and residences here and abroad as creative director. Julia Sarisetiati, nicknamed Sari, is aided by Maya as manager, a hard-worker who often helps run multiple projects at the same time. From 2015 on, RURU Corps will optimize the business and cooperative potentials of all programs and divisions of the three founder organizations. As for RRREC Fest, ruangrupa’s annual alternative music festival, it is now overseen by Pasangan Baru (The New Couple): Natasha Abigail and Dimas Ario, who are supervised by The Secret Agents (Indra Ameng and Keke Tumbuan). This year will be the first time that it operates under the Business Unit.

Ruru Shop is now run by Ayu Dila Martina and Denny Darmawan. Ayu Dila Martina is an artist and fashion designer, while Denny Darmawan an energetic worker and future big businessman. They work together with numerous artists and musicians to create artistic products in affordable prices. Ruru Shop supports the sale of creative and educative products in its establishment that opens everyday from noon to night in ruangrupa.

Last but not least, is RURUradio. It’s an online radio generated from the constant kicking around in ruangrupa; a combination of utilizing radio online technology and playful personalities that used to lack sufficient outlet. RURUradio was founded after its proponents’ dissatisfaction over mainstream radios for its excessive commercials, that not only cut the broadcast hours—and the music definitely—but are also uttered through the broadcasters’ mouths. Beginning to air arbitrarily since 2011, RURUradio, a division most seriously developing the freedom of speech through voice, is organized by assorted individuals. They are: Mushowir Bing and Oskar deKemano, two sterling creative directors who have for decades been running around in video artistic works in Indonesian music scene, advertising, and film; while also involving themselves in ruangrupa since its birth. Besides them, there is Hauritsa; who not only works in Artlab, but also runs this radio with ever-growing fans as the program manager. So gratifying is the dream of the future of this radio, that oomleo has now come on board too. Born as Narpati Awangga; he is a pixel artist, game maniac, and is crazy about everything on the internet that can be searched, saved, expropriated, and re-do. oomleo left his post as ruangrupa’s IT and website coordinator, and–with no one that could prevent him–has proclaimed himself the Director of RURUradio, or, officially, the Great-Boss-Leader-Director of RURUradio. Leading the radio, he is aided fully by Arie Dagienkz—a celebrated broadcaster whose voice, behavior, and face are no stranger to his crazy fans in Indonesia—who now dedicates his love to make RURUradio as “RADIO WITH NO FREQUENCY PRIDE OF INTERNATIONAL WORLD HOMELAND”. Have the kindness to not question what that slogan means since not all phenomena in the world can be explained. Just tune in and enjoy RURUradio on www.rururadio.org.

*

One of the main programs of ruangrupa in 2015 is OK. Video, the seventh since 2003. This year OK. Video officially changed its name from OK. Video – Jakarta International Video Festival to OK. Video – Jakarta Media Arts Festival. The expansion of OK. Video, from its focus on “video art” to “media art”, is also an expansion of scope from video installation and motion picture based artworks to the open possibilities of performance art, sound art, Internet based, and interactivity based arts. Hopefully this expansion may allow new artistic ideas, in relation with critical ideas, raised in each of its event to emerge. Participating in the 50th year commemoration of the New Order regime and reviewing the media politics at that time, the theme of OK. Video 2015 is “New Order”. The OK. Video Festival is held in the National Gallery of Indonesia, Central Jakarta, in June 2015. This event also humbly marks the celebration of ruangrupa’s 15th anniversary.

In 2015, RRREC Fest will return as the annual music festival dedicated to celebrate the cross-countries art and musical development. It will be held in Tanakita camping ground, Sukabumi, West Java, in September; and in Jakarta in December 2015.

In this occasion we also would proudly, and on alert, announce that ruangrupa has been selected as the curator for the International C0ntemporary Arts Exhibition SONSBEEK 2016 (www.sonsbeek.org). This is certainly a kind of recognition, a challenge that will take hard work, as well as a precious 15th anniversary gift.

Let’s wish that in its 15th year, with its new management, dreams, and ideas, ruangrupa will not only survive beyond the imagination of everyone working in it, but may we also keep offering critical and imaginative ideas to the public.

 

Jakarta, 9 March – 12 June 2015

 

Written by Ardi Yunanto on behalf of ruangrupa, as a result of 48 personnel meetings for two whole nights in Tanakita, Sukabumi, West Java, on 7-9 January 2015. Executed in several days under the nasty influence of mental terror by Ajeng Nurul Aini. Edited for months and months fiercely yet wisely by Ade Darmawan. Then re-edited by Leonhard Bartolomeus up till he fell ill—before being perfected together, and translated by Keke Tumbuan. All is under the watchful eyes of our dearest Ajeng Nurul Aini.